Kekeringan Meluas di Bangkalan, 57 Desa Terdampak hingga November
![]() |
| Distribusi air bersih di Bangkalan (Foto: Tilik Media) |
“Total wilayah kekeringan itu saat ini meluas menjadi 57 desa. Banyak warga yang mengeluh dan meminta untuk droping air bersih,” kata Zainul, Rabu (14/10/2026).
Perpanjangan status darurat tersebut dilakukan setelah masa berlaku sebelumnya berakhir pada September. Dengan kebijakan itu, pemerintah daerah dapat melanjutkan upaya penanganan, terutama distribusi air bersih ke desa-desa yang mengalami kekurangan pasokan air.
“Dengan begitu, kita bisa terus membantu menyalurkan air bersih ke masyarakat terdampak kekeringan,” ujarnya.
Zainul memperkirakan musim kemarau di Bangkalan masih berlangsung hingga pekan ketiga November. Curah hujan diprediksi mulai turun menjelang akhir bulan, meski masyarakat tetap diminta mengantisipasi perubahan cuaca selama masa peralihan musim.
Menurut dia, salah satu potensi bencana yang perlu diwaspadai adalah angin puting beliung. Fenomena tersebut dapat terjadi akibat perubahan kondisi atmosfer yang berlangsung secara mendadak.
“Ketika ada perubahan tekanan udara secara mendadak, di situ berpotensi terjadinya angin puting beliung,” ungkapnya.
Ia menyebut potensi angin puting beliung dapat terjadi di berbagai wilayah Bangkalan, baik di daratan maupun perairan. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
Selain mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, Zainul mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas. Warga disarankan memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi serta menggunakan tabir surya ketika beraktivitas di luar ruangan.
Di tengah meluasnya dampak kekeringan, penyaluran air bersih menjadi salah satu langkah penanganan yang dibutuhkan masyarakat hingga kondisi cuaca kembali mendukung pemulihan ketersediaan air.
Mmt
#Slamet#
